Senin, 19 Januari 2015

"HAMKA"

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
          Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan resensi buku dengan judul ”Perkembangan Kebatinan di Indonesia”.
          Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua yang telah member doa dan membiayai dengan ikhlas dan tulus dan pak Malik Ibrahim selaku dosen pengampu yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
          Meskipun penulis berharap isi dari resensi ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar resensi ini nantinya dapat lebih baik lagi.
          Akhir kata penulis berharap agar resensi buku ini bermanfaat bagi saya dan semua pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.




Yogyakarta,15 Desember 2014

Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................
IDENTITAS BUKU.............................................................................
PENDAHULUAN.................................................................................
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN..............................................
KESIMPULAN DAN SARAN............................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................



Judul buku           : Perkembangan Kebatinan di Indonesia
Penulis                 : Prof. Dr. Hamka
Cetakan               : III ( Tiga )
Penerbit               : N.V. Bulan Bintang
Tahun terbit         : 1976
Kota terbit           : Jakarta
Jumlah halaman   : 121 halaman



Pendahuluan
            Kebatinan adalah agama beserta pandangan hidup Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan. Kebatinan mengajarkan sikap pasrah terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat di bawah semeta alam.[1]
          Telah kita ketahui bahwa berbagai macam kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain.[2]
          Menurut catatan resmi dari P.A.K.E.M. (Pengawas Aliran Kebatinan Masyarakat), saat buku ini ditulis telah ada sekitar 103 gerakan Kebatinan di Jawa Tengah saja, belum termasuk di provinsi lainnya. Nama gerakan itu antara lain “Ngelmu Sejari”, “Islam Murni”, “Agama Kuring”, dan lain-lain. Hamka bersama dengan KH Wahid Hasyim berdasarkan pengakuannya juga pernah dengan sengaja memasuki pertemuan satu kelompok kebatinan bernama Purnama Sidi yang dipelopori Wongsonegoro SH, dengan tujuan tidak lain untuk bisa meluruskan ajaran tersebut dari dalam. Keikutsertaan mereka berhenti setelah KH Wahid Hasyim wafat dan Hamka tidak lagi diundang akibat dipandang berbahaya.[3]
          Kebatinan (Bathin) berasal dari bahasa arab berarti “sebelah dalam”, berlawanan dengan lahir (Zhahir) yang artinya “sebelah luar”. Dalam hal diri manusia, bathin digunakan untuk menggambarkan sisi jiwa atau nafsunya, sedangkan lahir merujuk kepada tubuh yang tampak atau bagian luar. Besar sekali kemungkinan bahwa kata Kebatinan ini diambil dari nama satu firqah (pecahan) gerakan Islam, yang lebih mementingkan urusan batin, sebagai lawan dari urusan lahir. Gerakan tersebut, menurut Hamka mempengaruhi munculnya paham kebatinan di Indonesia.
          Ahmad al-Khatib dalam riset ilmiahnya menguraikan kaitan aliran Syiah dan Bathiniyah. Menurutnya, ketika membicarakan aliran Bathiniyah maka kita tidak bisa melepaskan dari kemunculan Syiah. Menegaskan apa yang telah digambarkan oleh Imam al-Ghazali, al-Khatib berpendapat bahwa fenomena tasyayyu’ [4]berada satu garis dengan Bathiniyah. Bahwasannya unsur-unsur ajaran Bathiniyah telah masuk ke dalam Syiah yang bersumber dari filsafat Plato, Yahudi, Kristen dan Hindu.
Ajaran-ajaran yang menonjol yang terindikasi berasal dari pemikiran asing tersebut di antaranya berupa ajaran ta’wil bathin. Bahwasannya setiap huruf dalam kitab suci memiliki rahasia-rahasia ghaib. Ajaran ini mulanya berasal dari Yahudi kelompok penganut Kabbalah.[5] Penganut Kabbalah memiliki pandangan, pengetahuan itu bukan diperoleh dengan membaca teks lahir. Tapi ilmu itu tersembunyi di dalam teks. Segala hal yang nampak di dunia ini bukanlah esensi, yang paling penting itu sisi batin atau esoterik.
Kabbalah adalah ajaran mistik Yahudi yang umurnya sudah ribuan tahun lalu dengan doktrin okultisme rahasia (sihir rahasia). Yahudi mempraktikkannya terhadap kitab Taurat. Takwil ini bercampur dengan filsafat Yunani, neo-Platonisme, dan kepercayaan orang-orang Persi. Bentuk ajaran ini pernah dipraktikkan pada masyarakat Yunani dan Iskandariah dahulu, yang konon disebut ‘Ahl al-‘Irfan’.[6] Kelompok ini meyakini bahwa ilmu batin mereka disebut Irfan. Hatinya tersinari oleh ‘wahyu’ tanpa perantara apapun. Mereka mengkampanyekan agama universal.[7]
          Di Indonesia Gerakan kebatinan mudah tumbuh karena dasar-dasar untuk itu telah ada. Sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakat telah mengenal agama Hindu dan Budha, dua agama Timur yang banyak berorientasi kepada kerohanian atau kejiwaan semata. Budha bahkan menganjurkan seseorang untuk melepaskan dirinya sama sekali dari belenggu hidup (samsara) dunia untuk bisa mencapai nirwana. Sebelum kedatangan kedua agama tersebut masyarakat nusantara bahkan sudah menganut kepercayaan asli berupa animisme dan dinamisme. Mereka menyembah roh-roh yang bersemayam di tempat-tempat tinggi.
          Hyang artinya ialah roh atau nenek moyang. Orang Bugis memuja Gunung Bawa KaraEng; KaraEng artinya Raja. Orang Sumba memuja gunung Sang-Hyang, orang Batak memuja Gunung Sibayak. Sibayak artinya Raja.
          Menurut Prof. Kamil Kartapradja bahwa aliran kepercayaan adalah keyakinan dan kepercayaan rakyat Indonesia di luar agama, dan tidak termasuk ke dalam salah satu agama. Aliran kepercayaan itu ada dua macam:
1. Kepercayaan yang sifatnya tradisional dan animistis, tanpa filosofi dan tidak ada pelajaran mistiknya, seperti kepercayaan orang-orang Perlamin dan Pelebegu di Tapanuli.
2. Golongan kepercayaan yang ajarannya ada filosofinya, juga disertai mistik, golongan inilah yang disebut atau menamakan dirinya golongan kebatinan. Golongan kebatinan ini dalam perkembangannya akhirnya menamakan dirinya sebagai Golongan Kepercayaan Kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.[8]

             Menilik kepada segala data dan fakta ini, teranglah bahwa sebelum Islam kita sudah mempunyai berbagai kepercayaan, dan kepercayaan itu lebih jelas bersifat musyrik, belum mendapat tuntunan Tauhid. Dan setelah agama Islam, tidaklah mudah menghabiskan pengaruh kepercayaan lama itu dengan sekaligus.[9]
          Sejarah masuknya agama-agama di Jawa tidaklah memiliki kesan yang jelas di Jawa, setiap periode pergantian selalu diwarnai oleh adanya Sinkretisme (paham mencari keserasian). Sehingga ketika Islam telah masuk, bekas agama yang terdahulu belum hilang sepenuhnya. Itulah sebabnya kepercayaan atas kesaktian Wali Songo misalnya, lebih mendominasi pikiran umat Islam Jawa dibandingkan dengan ajaran yang dibawanya. Upaya sinkretisme (paham mencari keserasian) ini sangat jelas terlihat dalam berbagai karya sastra Jawa seperti cerita-cerita Wayang dan Babad Tanah Jawa khususnya. Maka tidak aneh apabila raja-raja di Jawa dan beberapa daerah lainnya selalu menyusun garis keturunan hingga nabi-nabi.[10]
          Para penguasa Mataram menyusun silsilah-silsilah istimewa itu untuk dijadikan justifikasi kekuasaan mereka. Untuk menampakan diri sebagai sebuah negeri Islam, keraton bahkan mendirikan suatu badan “Yogosworo” yang bertugas mengurusi masalah-masalah agama. Lembaga ini semakin menegaskan peranan Sultan yang tidak hanya memegang kekuasaan hukum tapi juga termasuk agama. Sultan menjelma menjadi wali atau wakil Tuhan di muka bumi. Ajaran ini di kalangan Sufi disebut “Hulul”.[11]
          Akibatnya, terdapat kerancuan dalam penyebutan Raja dan Tuhan. Sebagai contoh, Hyang yang tadinya dirujuk sebagai roh nenek moyang menjelma sebagai dewa atau tuhan, sehingga penyembahan terhadapnya disebut Sembah-Hyang (Sembahyang). Kata “Pangeran” tidak hanya merujuk kepada penguasa dunia tapi juga kepada Tuhan. Ketika raja disebut Gusti, Allah pun disebut Gusti Allah.
          “Penuhanan” atau “Pendewaan” Raja-raja ini adalah satu dasar untuk memupuk apa yang dinamakan ilmu kebatinan. Sebab apabila orang Islam bertambah sadar akan tauhidnya, dia pasti menantang kekuasaan absolut raja-raja tersebut. Dengan demikian cepat atau lambat selalu terjadi pertentangan antara raja dan ulama di dalam istana.
          Dalam sejarah Indonesia selalu terdapat pertentangan antara dua aliran ini, walaupun masuknya Islam ke tanah air kita adalah secara damai. Tetapi resiko penyebaran secara damai itu rupanya membuat Islam itu sendiri menjadi samar, “bagalutu-putu” atau “bagaleak-leak” yang berarti bercampur aduk. Islam iya, Hindu iya, Buddha iya, animisme iya, Katholik iya, Komunis juga iya!
          Pertentangan ini memuncak ketika Sultan Amangkurat I naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan Agung. Amangkurat bosan selalu dirongrong kalangan Agamawan sehingga ia memerintahkan pembunuhan besar-besaran terhadap para ulama dan santri di alun-alun Kartasura. Sejak itu mulailah tumbuh Islamopobhi. Segala usaha dibuat untuk mendiskreditkan Islam. Kaum Agama yang tidak dapat menyesuaikan diri, mendirikan pondok-pondok menyisihkan diri, menjauh, seperti yang diajarkan Imam Ghazali : “Supaya selamat jauhi Istana !”.
          Hasilnya timbulah golongan mutihan, bersorban putih, taat beragama, meramaikan jamaah. Dan sebelahnya lagi, kaum abangan, bernama saja Islam, tetapi tidak menjalankan syariat. Sebab itu maka feodalisme adalah salah satu sebab timbulnya Ilmu Kebatinan.
          Walaupun Islam berhasil menjadi agama masyarakat, menurut Prof. K.K. Berg, muncul kecenderungan untuk “menggabungkan menjadi satu” semua ajaran yang pernah dianut oleh masyarakat sebelumnya.
          Sehingga timbulah satu ajaran baru yang bersifat Jawa (Kejawen), yang tidak lagi Budha; karena dia mengakui adanya Tuhan, dan tidak lagi Hindu, sebab tidak lagi mengakui Khrisna, Siwa, dan Wishnu; dan tidak pula Islam, dengan ajaran tauhidnya yang sejati. Tetapi secara ilmiah harus diakui bahwa dalam ajaran itu lebih banyak diambil kaidah-kaidah ajaran Islam, terutama tasawwuf.
          Menurut Prof. Dr. H. Rasjidi, ada tiga buah buku pegangan Kejawen yaitu : Kitab Darmogandul,  Kitab Gatoloco, dan Kitab Hidayat Jati. Kitab-kitab ini menurut Hamka memperlihatkan pengaruh kelompok Bathiniyah, Ismailiyah atau Qaramithah terhadap gerakan kebatinan di pulau Jawa. Hubungan ini lebih rapat lagi setelah penjajahan Belanda mulai masuk.[12]
            Hamka menempatkan R. Ngabehi Ronggowarsito (1803-1875) sebagai Bapak Kebatinan. Ronggowatsito sebagai pujangga keraton merupakan seorang tokoh yang menganjurkan raja agar meninggalkan syariat atau ibadah karena tidak sejalan dengan kebesarannya. Dalam kitab Hidayat Jati, dianjurkan raja-raja ini melakukan Penakung.
          Mula-mula harus mengurangkan makan dan tidur, melarang sahwat, mengekang nafsu selama beberapa hari. Kemudian puasa ngelowong (hanya makan sebutir buah sehari), serta tidak bicara selama tiga hari tiga malam, tidak boleh merasa dengki atau susah dan seterusnya
          Ajaran Penakung itu nyatanya diambil dari salah satu Ilmu Thariqat Naqsabandi (tawajjuh). Selain itu dianjurkan pula melakukan Shalat Daim, yaitu sembahyang dalam hati, walaupun tidak mengerjakan sembahyang menurut syariat.
          Hamka menegaskan bahwa pada dasarnya sembilan wali baru mendapat gelar sunan setelah beliau-beliau meninggal dunia. Karena mereka dipandang keramat dan kubur mereka dimuliakan sebagai memuliakan berhala. Disana mengadakan upacara sajen atau sembahan Pada masa hidupnya para wali tersebut, khusunya di masa Sunan Kudus, hubungan kaum kebatinan terhadap ulama Islam mulai memanas. Seorang Ki Kebo Kenongo, bupati Pengging dihukum mati oleh sunan karena kekeuh memegang ajaran Syekh Siti Jenar. Keturunan Ki Kebo Kenongo yang bernama Adiwijoyo kemudian berhasil merebut kekuasaan Demak dan mendirikan kerajaan Pajang. Sejak masa Pajang inilah Kejawen mulai populer. Kejayaan Pajang tidak lama karena setelahnya bangkit kerajaan Mataram Islam dengan Sultan Agung sebagai pemimpin besarnya.
          Masa Sultan Agung adalah zaman yang kaya dalam usaha menegakan syariat Islam sebagai panutan, bersahabat dengan negeri-negeri Islam, dapat pengakuan gelar sultan dan tidak mengabaikan adat lama pusaka usang. Kata-kata kebatinan yang berbau Pajang dihilangkan, Bekas-bekas Demak ditegakkan. Di zaman puteranya Amangkurat I barulah keadaan kacau kembali.
          Kaum Agama di masa Amangkurat I seperti telah disebutkan sebelumnya mengalami malapetaka yang tak terperikan. Sejarah mencatat sekitar 6000 kiyai dan santri dibunuh olehnya secara kejam di alun-alun Kertasura.
          Pada awal abad ke-19, kedatangan tiga orang haji dari Mekkah : Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik menandakan masuknya paham Wahabi ke Indonesia. Mereka bertigalah yang membawa bibih Wahabi yang kemudian tumbuh menjadi perang Paderi di Minangkabau. Sebelumnya, paham Wahabi tersebut telah masuk ke dalam Keraton Surakarta sekitar tahun 1790. Ajaran tersebut disambut dengan baik oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV atau Sunan Bagus tapi tidak sempat menyebar karena intervensi Belanda.
          Hamka menyimpulkan bahwa pengaruh kebatinan yang begitu melekat pada diri masyarakat Indonesia, terutama di Jawa tidak dapat begitu saja dihilangkan oleh Umat Islam karena kesalahan umat sendiri yang masih sibuk berdebat soal fiqih.
          Lantaran habis hari dalam perselisihan seperti ini, teledorlah waktu untuk membicarakan hakikat Tauhid, hakikat ajaran yang membawa Islam ke tengah permukaan bumi, yang mengadung Nur dan Nar, cahaya dan api.
          Khilafiya atau perselisihan tadi menyebabkan jiwa yang kasar. Orang yang tidak sefaham sudah dianggap musuh, sehingga akhirnya tenaga ummat Islam habis dalam pertengkaran.
          Hamka menekankan bahwa Islam pada dasarnya tidak menghilangkan hal-hal bathin ataupun lahir. Ajaran Islam sendiri adalah gabungan antara batin dengan lahir. Segala amalan tidak akan diterima oleh Allah apabila tidak timbul dari niat yang ikhlas.
          Amal adalah hasil niat, artinya perbuatan lahir adalah pelaksanaan dari niat dalam batin.
          Di akhir buku ini, Hamka memperingatkan mengenai kemunculan reformasi kejawen di Yogyakarta. Yaitu tidak lain  adalah Taman Siswa dengan penganjarnya Ki Hajar Dewantara. Gerakan ini mendapat saingan dari munculnya gerakan reformasi kaum Mutihan yang dinamakan Muhammadiyah dengan H.A. Dahlan sebagai perintisnya. Keduanya mengutamakan pendidikan, sama-sama mendirikan sekolah. Pengaruh keduanya dalam pergerakan kebangsaan terlihat dari alur berikut :
Ki Hajar Dewantara – Taman Siswa – PNI
Kiai H. Ahmad Dahlan – Muhammadiyah – Masyumi
Hamka menutup buku ini dengan pesan bahwa :
          Maka ahli-ahli dakwah Islam tidak patut lagi memikirkan soal ini dengan sembrono atau tinjauan sepintas lalu, Inilah usaha dakwah yang besar, menghendaki tempo lama dan kesabaran.[13]








                   [1] Mulder, Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1984), hlm. 12.
             [2]Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, (Jakarta:Bulan Bintang ,1976), hlm. 9.
             [3] Ibid., hlm. 11.
                   [4] Muhammad Ahmad al-Khatib, Al-Harakat al-Bathiniyah fi al-‘Alami al-Islami, (Amman: Maktabah al-Aqsha: 1986), hal. 20.
             [5] Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adat istiadat. Aliran ini menjadi sumber sihir-sihir di Eropa. Ia pertama diajarkan oleh Samiri yang mengajak bangsa Israel keluar dari Mesir untuk menyembah patung anak sapi. Ajaran emanasinya menjadi kepercayaan kelompok kebatinan di dunia. Lihat AD. El Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, Sejarah dan Perkembangannya ke Indonesia,(Bandung: Syamil,2005), hlm. 50 dan Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia,(Jakarta: Pustaka al-Kaustar, 2010), hlm. 73.
             [6] Muhammad Ahmad al-Khatib, Al-Harakat al-Bathiniyah fi al-‘Alami al-Islami, hal. 21. Mahmud Qosim,Dirosat fi al-Falsafah al-Islamiyyah, hlm. 245.
             [7] Muhammad Ahmad al-Khatib, Al-Harakat al-Bathiniyah fi al-‘Alami al-Islami, hal. 22
                   [8] Kusuma, Hilman Hadi, Antropologi Agama, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993), hlm. 85-86.
             [9] Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, (Jakarta:Bulan Bintang ,1976), hlm. 15.
             [10] Ibid., hlm. 18.
                   [11] Ibid., hlm. 21-22
                   12Ibid., hlm. 32-33.
[13] Ibid., hlm. 121.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar