Kata
Pengantar
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Alhamdulillahirabbilalamin,
banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala
puji hanya layak untuk Allah Tuhan sekalian alam atas segala berkat, rahmat,
taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan resensi buku dengan judul ”Perkembangan
Kebatinan di Indonesia”.
Dalam
penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena
itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang
tua yang telah member doa dan membiayai dengan ikhlas dan tulus dan pak Malik
Ibrahim selaku dosen pengampu yang telah memberikan dukungan, kasih, dan
kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal,
semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah
yang lebih baik lagi.
Meskipun
penulis berharap isi dari resensi ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,
namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun agar resensi ini nantinya dapat lebih baik lagi.
Akhir
kata penulis berharap agar resensi buku ini bermanfaat bagi saya dan semua
pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Yogyakarta,15 Desember 2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................
DAFTAR ISI.........................................................................................
IDENTITAS BUKU.............................................................................
PENDAHULUAN.................................................................................
KELEBIHAN DAN
KEKURANGAN..............................................
KESIMPULAN DAN
SARAN............................................................
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................
Judul buku : Perkembangan
Kebatinan di Indonesia
Penulis : Prof. Dr.
Hamka
Cetakan : III ( Tiga
)
Kota terbit : Jakarta
Jumlah halaman : 121 halaman
Pendahuluan
Kebatinan adalah agama
beserta pandangan hidup Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan
keseimbangan. Kebatinan mengajarkan sikap pasrah terhadap segala peristiwa yang
terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat di bawah
semeta alam.[1]
Telah kita ketahui bahwa berbagai
macam kepercayaan dan aliran-aliran kebatinan telah timbul dalam masyarakat
kita di Indonesia ini. Gerakan semacam ini banyak sekali, terutama tumbuh di
Jawa Tengah, dan ada juga di daerah-daerah lain.[2]
Menurut catatan resmi
dari P.A.K.E.M. (Pengawas Aliran Kebatinan Masyarakat), saat buku ini ditulis
telah ada sekitar 103 gerakan Kebatinan di Jawa Tengah saja, belum termasuk di
provinsi lainnya. Nama gerakan itu antara lain “Ngelmu Sejari”, “Islam Murni”,
“Agama Kuring”, dan lain-lain. Hamka bersama dengan KH Wahid Hasyim berdasarkan
pengakuannya juga pernah dengan sengaja memasuki pertemuan satu kelompok
kebatinan bernama Purnama Sidi yang dipelopori Wongsonegoro SH, dengan tujuan
tidak lain untuk bisa meluruskan ajaran tersebut dari dalam. Keikutsertaan
mereka berhenti setelah KH Wahid Hasyim wafat dan Hamka tidak lagi diundang
akibat dipandang berbahaya.[3]
Kebatinan (Bathin)
berasal dari bahasa arab berarti “sebelah dalam”, berlawanan dengan lahir
(Zhahir) yang artinya “sebelah luar”. Dalam hal diri manusia, bathin digunakan
untuk menggambarkan sisi jiwa atau nafsunya, sedangkan lahir merujuk kepada
tubuh yang tampak atau bagian luar. Besar sekali kemungkinan bahwa kata
Kebatinan ini diambil dari nama satu firqah (pecahan) gerakan Islam, yang lebih
mementingkan urusan batin, sebagai lawan dari urusan lahir. Gerakan tersebut,
menurut Hamka mempengaruhi munculnya paham kebatinan di Indonesia.
Ahmad al-Khatib dalam riset ilmiahnya
menguraikan kaitan aliran Syiah dan Bathiniyah. Menurutnya, ketika membicarakan
aliran Bathiniyah maka kita tidak bisa melepaskan dari kemunculan Syiah.
Menegaskan apa yang telah digambarkan oleh Imam al-Ghazali, al-Khatib
berpendapat bahwa fenomena tasyayyu’ [4]berada satu garis
dengan Bathiniyah. Bahwasannya unsur-unsur ajaran Bathiniyah telah masuk ke
dalam Syiah yang bersumber dari filsafat Plato, Yahudi, Kristen dan Hindu.
Ajaran-ajaran
yang menonjol yang terindikasi berasal dari pemikiran asing tersebut di
antaranya berupa ajaran ta’wil bathin. Bahwasannya setiap huruf dalam kitab
suci memiliki rahasia-rahasia ghaib. Ajaran ini mulanya berasal dari Yahudi
kelompok penganut Kabbalah.[5]
Penganut Kabbalah memiliki pandangan, pengetahuan itu bukan diperoleh dengan
membaca teks lahir. Tapi ilmu itu tersembunyi di dalam teks. Segala hal yang
nampak di dunia ini bukanlah esensi, yang paling penting itu sisi batin atau
esoterik.
Kabbalah adalah ajaran mistik Yahudi yang umurnya
sudah ribuan tahun lalu dengan doktrin okultisme rahasia (sihir rahasia).
Yahudi mempraktikkannya terhadap kitab Taurat. Takwil ini bercampur dengan
filsafat Yunani, neo-Platonisme, dan kepercayaan orang-orang Persi. Bentuk
ajaran ini pernah dipraktikkan pada masyarakat Yunani dan Iskandariah dahulu,
yang konon disebut ‘Ahl al-‘Irfan’.[6]
Kelompok ini meyakini bahwa ilmu batin mereka disebut Irfan. Hatinya tersinari
oleh ‘wahyu’ tanpa perantara apapun. Mereka mengkampanyekan agama universal.[7]
Di Indonesia Gerakan
kebatinan mudah tumbuh karena dasar-dasar untuk itu telah ada. Sebelum agama
Islam masuk ke tanah Jawa, masyarakat telah mengenal agama Hindu dan Budha, dua
agama Timur yang banyak berorientasi kepada kerohanian atau kejiwaan semata.
Budha bahkan menganjurkan seseorang untuk melepaskan dirinya sama sekali dari
belenggu hidup (samsara) dunia untuk bisa mencapai nirwana. Sebelum kedatangan
kedua agama tersebut masyarakat nusantara bahkan sudah menganut kepercayaan
asli berupa animisme dan dinamisme. Mereka menyembah roh-roh yang bersemayam di
tempat-tempat tinggi.
Hyang artinya ialah
roh atau nenek moyang. Orang Bugis memuja Gunung Bawa KaraEng; KaraEng artinya
Raja. Orang Sumba memuja gunung Sang-Hyang, orang Batak memuja Gunung Sibayak.
Sibayak artinya Raja.
Menurut
Prof. Kamil Kartapradja bahwa aliran kepercayaan adalah keyakinan dan
kepercayaan rakyat Indonesia di luar agama, dan tidak termasuk ke dalam salah
satu agama. Aliran kepercayaan itu ada dua macam:
1. Kepercayaan yang sifatnya
tradisional dan animistis, tanpa filosofi dan tidak ada pelajaran mistiknya,
seperti kepercayaan orang-orang Perlamin dan Pelebegu di Tapanuli.
2. Golongan kepercayaan yang
ajarannya ada filosofinya, juga disertai mistik, golongan inilah yang disebut
atau menamakan dirinya golongan kebatinan. Golongan kebatinan ini dalam
perkembangannya akhirnya menamakan dirinya sebagai Golongan Kepercayaan Kepada
Ketuhanan Yang Maha Esa.[8]
Menilik kepada segala data dan fakta ini, teranglah
bahwa sebelum Islam kita sudah mempunyai berbagai kepercayaan, dan kepercayaan
itu lebih jelas bersifat musyrik, belum mendapat tuntunan Tauhid. Dan setelah
agama Islam, tidaklah mudah menghabiskan pengaruh kepercayaan lama itu dengan
sekaligus.[9]
Sejarah masuknya
agama-agama di Jawa tidaklah memiliki kesan yang jelas di Jawa, setiap periode
pergantian selalu diwarnai oleh adanya Sinkretisme (paham mencari keserasian). Sehingga
ketika Islam telah masuk, bekas agama yang terdahulu belum hilang sepenuhnya.
Itulah sebabnya kepercayaan atas kesaktian Wali Songo misalnya, lebih
mendominasi pikiran umat Islam Jawa dibandingkan dengan ajaran yang dibawanya.
Upaya sinkretisme (paham mencari keserasian) ini sangat jelas terlihat dalam
berbagai karya sastra Jawa seperti cerita-cerita Wayang dan Babad Tanah Jawa
khususnya. Maka tidak aneh apabila raja-raja di Jawa dan beberapa daerah
lainnya selalu menyusun garis keturunan hingga nabi-nabi.[10]
Para penguasa Mataram
menyusun silsilah-silsilah istimewa itu untuk dijadikan justifikasi kekuasaan
mereka. Untuk menampakan diri sebagai sebuah negeri Islam, keraton bahkan
mendirikan suatu badan “Yogosworo” yang bertugas mengurusi masalah-masalah
agama. Lembaga ini semakin menegaskan peranan Sultan yang tidak hanya memegang
kekuasaan hukum tapi juga termasuk agama. Sultan menjelma menjadi wali atau
wakil Tuhan di muka bumi. Ajaran ini di kalangan Sufi disebut “Hulul”.[11]
Akibatnya, terdapat
kerancuan dalam penyebutan Raja dan Tuhan. Sebagai contoh, Hyang yang tadinya
dirujuk sebagai roh nenek moyang menjelma sebagai dewa atau tuhan, sehingga
penyembahan terhadapnya disebut Sembah-Hyang (Sembahyang). Kata “Pangeran” tidak
hanya merujuk kepada penguasa dunia tapi juga kepada Tuhan. Ketika raja disebut
Gusti, Allah pun disebut Gusti Allah.
“Penuhanan” atau
“Pendewaan” Raja-raja ini adalah satu dasar untuk memupuk apa yang dinamakan
ilmu kebatinan. Sebab apabila orang Islam bertambah sadar akan tauhidnya, dia
pasti menantang kekuasaan absolut raja-raja tersebut. Dengan demikian cepat
atau lambat selalu terjadi pertentangan antara raja dan ulama di dalam istana.
Dalam sejarah
Indonesia selalu terdapat pertentangan antara dua aliran ini, walaupun masuknya
Islam ke tanah air kita adalah secara damai. Tetapi resiko penyebaran secara
damai itu rupanya membuat Islam itu sendiri menjadi samar, “bagalutu-putu” atau
“bagaleak-leak” yang berarti bercampur aduk. Islam iya, Hindu iya, Buddha iya,
animisme iya, Katholik iya, Komunis juga iya!
Pertentangan ini
memuncak ketika Sultan Amangkurat I naik tahta menggantikan ayahnya, Sultan
Agung. Amangkurat bosan selalu dirongrong kalangan Agamawan sehingga ia
memerintahkan pembunuhan besar-besaran terhadap para ulama dan santri di
alun-alun Kartasura. Sejak itu mulailah tumbuh Islamopobhi. Segala usaha dibuat
untuk mendiskreditkan Islam. Kaum Agama yang tidak dapat menyesuaikan diri,
mendirikan pondok-pondok menyisihkan diri, menjauh, seperti yang diajarkan Imam
Ghazali : “Supaya selamat jauhi Istana !”.
Hasilnya timbulah
golongan mutihan, bersorban putih, taat beragama, meramaikan jamaah. Dan
sebelahnya lagi, kaum abangan, bernama saja Islam, tetapi tidak menjalankan
syariat. Sebab itu maka feodalisme adalah salah satu sebab timbulnya Ilmu
Kebatinan.
Walaupun Islam
berhasil menjadi agama masyarakat, menurut Prof. K.K. Berg, muncul
kecenderungan untuk “menggabungkan menjadi satu” semua ajaran yang pernah
dianut oleh masyarakat sebelumnya.
Sehingga timbulah
satu ajaran baru yang bersifat Jawa (Kejawen), yang tidak lagi Budha; karena
dia mengakui adanya Tuhan, dan tidak lagi Hindu, sebab tidak lagi mengakui
Khrisna, Siwa, dan Wishnu; dan tidak pula Islam, dengan ajaran tauhidnya yang
sejati. Tetapi secara ilmiah harus diakui bahwa dalam ajaran itu lebih banyak
diambil kaidah-kaidah ajaran Islam, terutama tasawwuf.
Menurut Prof. Dr. H.
Rasjidi, ada tiga buah buku pegangan Kejawen yaitu : Kitab Darmogandul,
Kitab Gatoloco, dan Kitab Hidayat Jati. Kitab-kitab ini menurut Hamka
memperlihatkan pengaruh kelompok Bathiniyah, Ismailiyah atau Qaramithah
terhadap gerakan kebatinan di pulau Jawa. Hubungan ini lebih rapat lagi setelah
penjajahan Belanda mulai masuk.[12]
Hamka menempatkan R. Ngabehi Ronggowarsito
(1803-1875) sebagai Bapak Kebatinan. Ronggowatsito sebagai pujangga keraton
merupakan seorang tokoh yang menganjurkan raja agar meninggalkan syariat atau
ibadah karena tidak sejalan dengan kebesarannya. Dalam kitab Hidayat Jati,
dianjurkan raja-raja ini melakukan Penakung.
Mula-mula harus
mengurangkan makan dan tidur, melarang sahwat, mengekang nafsu selama beberapa
hari. Kemudian puasa ngelowong (hanya makan sebutir buah sehari), serta tidak
bicara selama tiga hari tiga malam, tidak boleh merasa dengki atau susah dan
seterusnya
Ajaran Penakung itu
nyatanya diambil dari salah satu Ilmu Thariqat Naqsabandi (tawajjuh). Selain
itu dianjurkan pula melakukan Shalat Daim, yaitu sembahyang dalam hati,
walaupun tidak mengerjakan sembahyang menurut syariat.
Hamka menegaskan
bahwa pada dasarnya sembilan wali baru mendapat gelar sunan setelah
beliau-beliau meninggal dunia. Karena mereka dipandang keramat dan kubur mereka
dimuliakan sebagai memuliakan berhala. Disana mengadakan upacara sajen atau sembahan
Pada masa hidupnya para wali tersebut, khusunya di masa Sunan Kudus, hubungan
kaum kebatinan terhadap ulama Islam mulai memanas. Seorang Ki Kebo Kenongo,
bupati Pengging dihukum mati oleh sunan karena kekeuh memegang ajaran Syekh
Siti Jenar. Keturunan Ki Kebo Kenongo yang bernama Adiwijoyo kemudian berhasil
merebut kekuasaan Demak dan mendirikan kerajaan Pajang. Sejak masa Pajang inilah
Kejawen mulai populer. Kejayaan Pajang tidak lama karena setelahnya bangkit
kerajaan Mataram Islam dengan Sultan Agung sebagai pemimpin besarnya.
Masa Sultan Agung
adalah zaman yang kaya dalam usaha menegakan syariat Islam sebagai panutan,
bersahabat dengan negeri-negeri Islam, dapat pengakuan gelar sultan dan tidak
mengabaikan adat lama pusaka usang. Kata-kata kebatinan yang berbau Pajang
dihilangkan, Bekas-bekas Demak ditegakkan. Di zaman puteranya Amangkurat I
barulah keadaan kacau kembali.
Kaum Agama di masa Amangkurat I
seperti telah disebutkan sebelumnya mengalami malapetaka yang tak terperikan.
Sejarah mencatat sekitar 6000 kiyai dan santri dibunuh olehnya secara kejam di
alun-alun Kertasura.
Pada awal abad ke-19, kedatangan tiga
orang haji dari Mekkah : Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik menandakan
masuknya paham Wahabi ke Indonesia. Mereka bertigalah yang membawa bibih Wahabi
yang kemudian tumbuh menjadi perang Paderi di Minangkabau. Sebelumnya, paham
Wahabi tersebut telah masuk ke dalam Keraton Surakarta sekitar tahun 1790.
Ajaran tersebut disambut dengan baik oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IV atau
Sunan Bagus tapi tidak sempat menyebar karena intervensi Belanda.
Hamka menyimpulkan bahwa pengaruh
kebatinan yang begitu melekat pada diri masyarakat Indonesia, terutama di Jawa
tidak dapat begitu saja dihilangkan oleh Umat Islam karena kesalahan umat
sendiri yang masih sibuk berdebat soal fiqih.
Lantaran habis hari dalam perselisihan
seperti ini, teledorlah waktu untuk membicarakan hakikat Tauhid, hakikat ajaran
yang membawa Islam ke tengah permukaan bumi, yang mengadung Nur dan Nar, cahaya
dan api.
Khilafiya atau perselisihan tadi
menyebabkan jiwa yang kasar. Orang yang tidak sefaham sudah dianggap musuh,
sehingga akhirnya tenaga ummat Islam habis dalam pertengkaran.
Hamka menekankan bahwa Islam pada
dasarnya tidak menghilangkan hal-hal bathin ataupun lahir. Ajaran Islam sendiri
adalah gabungan antara batin dengan lahir. Segala amalan tidak akan diterima
oleh Allah apabila tidak timbul dari niat yang ikhlas.
Amal adalah hasil niat, artinya
perbuatan lahir adalah pelaksanaan dari niat dalam batin.
Di akhir buku ini, Hamka
memperingatkan mengenai kemunculan reformasi kejawen di Yogyakarta. Yaitu tidak
lain adalah Taman Siswa dengan penganjarnya Ki Hajar Dewantara. Gerakan
ini mendapat saingan dari munculnya gerakan reformasi kaum Mutihan yang
dinamakan Muhammadiyah dengan H.A. Dahlan sebagai perintisnya. Keduanya
mengutamakan pendidikan, sama-sama mendirikan sekolah. Pengaruh keduanya dalam
pergerakan kebangsaan terlihat dari alur berikut :
Ki Hajar Dewantara – Taman Siswa
– PNI
Kiai H. Ahmad Dahlan –
Muhammadiyah – Masyumi
Hamka
menutup buku ini dengan pesan bahwa :
Maka ahli-ahli dakwah Islam tidak
patut lagi memikirkan soal ini dengan sembrono atau tinjauan sepintas lalu,
Inilah usaha dakwah yang besar, menghendaki tempo lama dan kesabaran.[13]
[5]
Kabbalah berasal dari bahasa Ibrani yang artinya adat istiadat. Aliran ini
menjadi sumber sihir-sihir di Eropa. Ia pertama diajarkan oleh Samiri yang
mengajak bangsa Israel keluar dari Mesir untuk menyembah patung anak sapi.
Ajaran emanasinya menjadi kepercayaan kelompok kebatinan di dunia. Lihat AD. El
Marzdedeq, Jaringan Gelap Freemasonry, Sejarah dan
Perkembangannya ke Indonesia,(Bandung: Syamil,2005), hlm. 50 dan
Artawijaya, Gerakan Theosofi di Indonesia,(Jakarta:
Pustaka al-Kaustar, 2010), hlm. 73.
[13] Ibid., hlm. 121.
